balbalan.id Luka Modric legenda Bernabeu, gelandang kreatif asal Kroasia, mengukir sejarah panjang bersama Real Madrid sejak bergabung dari Tottenham Hotspur pada tahun 2012. Perjalanan kariernya di Santiago Bernabeu tidak selalu mulus, namun penuh dedikasi dan determinasi hingga akhirnya menjelma menjadi salah satu legenda terbesar klub.
Awal Datang ke Real Madrid: Dibeli dengan Harga £30 Juta
Pada 27 Agustus 2012, Luka Modric resmi diperkenalkan sebagai pemain baru Real Madrid. Ia direkrut dari Tottenham dengan nilai transfer sekitar £30 juta atau Rp570 miliar. Keputusan untuk memboyong Modric tak lepas dari performa impresifnya bersama Spurs dan timnas Kroasia, terutama di ajang Euro 2008.
Namun, musim pertamanya di bawah asuhan Jose Mourinho penuh tantangan. Meski langsung meraih trofi Supercopa de Espana, performanya belum maksimal dan ia sering dibandingkan dengan Mesut Ozil yang sedang bersinar kala itu.
Baca Juga :
>> Chelsea Gagal Dapatkan Jamie Bynoe-Gittens, Tawaran 55 Juta Euro Ditolak Dortmund
Musim Perdana: Dari Harapan Tinggi Menjadi Kritik Pedas
Modric sempat dicap sebagai pembelian terburuk La Liga 2012 oleh media Spanyol Marca karena performanya dinilai tidak sesuai ekspektasi. Ia datang tanpa pramusim dan belum menyatu dengan skema permainan Madrid. Di saat Madrid tampil inkonsisten di La Liga, Modric pun menjadi sasaran kritik.
Namun di balik tekanan besar itu, Modric tidak menyerah. Ia menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa dirinya siap membuktikan kualitas, meski harus melawan keraguan publik dan tekanan luar biasa di klub sebesar Real Madrid.
Titik Balik: Liga Champions Jadi Panggung Kebangkitan
Titik balik karier Modric di Real Madrid terjadi pada laga semifinal Liga Champions 2013 melawan Borussia Dortmund. Di leg kedua, ia dimainkan lebih dalam dan berhasil mengontrol lini tengah, membantu Madrid menang 2-0 meski gagal lolos ke final.
Penampilannya malam itu membuka mata publik bahwa Modric adalah pemain pengatur irama permainan—bukan pencetak gol, melainkan maestro lini tengah.
Trio Legendaris: Modric, Kroos, Casemiro
Ketika Carlo Ancelotti datang dan membentuk trio gelandang dengan Toni Kroos dan Casemiro, posisi Modric semakin solid. Dalam formasi 4-3-3 yang fleksibel, ia menjadi pengatur tempo yang elegan, kreatif, dan tangguh di tengah tekanan.
Trio ini menjadi kunci sukses Real Madrid meraih banyak gelar, termasuk enam trofi Liga Champions, empat La Liga, lima Piala Dunia Antarklub, dan berbagai trofi domestik lainnya.
Puncak Karier: Ballon d’Or 2018 dan Pengakuan Dunia
Luka Modric legenda Bernabeu di Puncak prestasi pribadi Modric terjadi pada tahun 2018, ketika ia sukses membawa Kroasia ke final Piala Dunia 2018 dan meraih penghargaan Ballon d’Or, mengalahkan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Ia menjadi pemain pertama dalam satu dekade yang mematahkan dominasi dua bintang tersebut.
Penghargaan itu menjadi simbol bahwa kerja keras, konsistensi, dan kecerdasan bermain bisa membawa seorang gelandang ke level tertinggi dunia.
Akhir Sebuah Era: Perpisahan di Tahun 2025
Pada 22 Mei 2025, Real Madrid mengumumkan bahwa Modric akan meninggalkan klub setelah 13 tahun pengabdian. Laga terakhirnya di Santiago Bernabeu melawan Real Sociedad menjadi momen emosional. Ia menerima guard of honour dan tepuk tangan meriah dari fans yang dulu sempat meragukannya.
Modric akan menutup kariernya bersama Madrid di ajang Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat, sebagai simbol penutup era kejayaan yang telah ia bantu bentuk.
Kesimpulan: Modric, Warisan yang Tak Tergantikan
Luka Modric adalah bukti nyata bahwa legenda tidak lahir dari jalan yang mudah. Ia sempat dihina, diragukan, bahkan dicap gagal. Namun lewat kerja keras, disiplin, dan kualitas tanpa kompromi, ia mengubah semua kritik menjadi pujian.
Santiago Bernabeu kini tak lagi menjadi tempat asing baginya. Ia bukan hanya pemain bintang, tapi ikon abadi Real Madrid. Modric menunjukkan bahwa keabadian dalam sepak bola tidak datang dari kilau awal, melainkan dari proses panjang untuk terus menyala di tengah tekanan.

